Aku dan Becca bertemu di kelas satu. Dia siswa baru yang sedang mendaftar di sekolah kami, sementara aku, sedang dalam masalah karena berani mengancam Kenny bahwa aku akan menyumpal hidungnya dengan kismis. Aku dan Becca menghabiskan siang itu di kantor kepala sekolah dan akhirnya menjadi sahabat dekat yang tidak terpisahkan. Pada pertemuan orang tua dan guru, guru kelas satu ku mengatakan bahwa persahabatan yang dimulai di kelas satu tidak akan bertahan lama, Ia keliru, selama awal SD, ketika teman teman lain berganti teman dekat setiap minggu, di kelas lima atau enam ketika setiap siswa bersikap "sok hebat" dan di SMP ketika setiap orang menilai kembali semua tentang diri mereka sendiri, kami tetap bersahabat dekat. Bersama sama dengan penuh gembira bercampur cemas, kami memasuki SMA.
Benar benar menakjubkan bagaimana seluruh sistem prioritas mu berubah ketika kau memasuki pintu ganda yang mengintimidasi itu. Bukan nya sesekali menginap dan pesta ulang tahun, kami malah berkencan dan berdansa. Dansa pertama adalah pesta homecoming. Aku tidak menganggap nya serius, banyak hal lain yang lebih bak dilakukan, misalnya menonton atau makan makan. Selain itu, aku belum boleh berkencan. Aku tidak ingin menjadi siswa bodoh yang tidak punya pasangan di pesta dansa. Alasan alasan ini cukup baik bagiku, tapi rupanya tidak memuaskan Becca.
Jumat pagi sebelum pertandingan, ia muncul di depan lokerku, di mana aku pura pura kesal mencari buku biologi ku.
"Aku tidak tau kamu tidak akan datang ke pesta itu.." Ia menuduhku
Aku mengangkat bahu, sambil terus ber pura pura sibuk.
"Ayolah.." pintanya. "Pergi bersamaku.."
Aku terus mengaduk ngaduk loker, berharap aku tidak pernah mendengar tentang pesta itu.
"Kenapa kamu tidak mau pergi sih?" Aku tidak menjawab..
"Apa karena kamu tidak punya pasangan?" aku berhenti mengaduk aduk barangku. "Mungkin."
Becca mengeluh frustasi dan memalingkan wajahnya. Aku menarik napas lega, meski aku tau ia tidak akan melupakan percakapan itu sekalipun itu bearti ia harus mencarikan pasangan untukku.
Konfrontasi kedua terjadi saat pertandingan.
"Aku juga tidak punya pasangan" ia memberitauku..
"Becca, kamu bilang tidak punya pasangan. Kamu punya teman kencan selama beberapa minggu ini." Aku mulai merasa sedikit kesal. Sedikit saja. "Bisakan kamu tidak mengusikku lagi?" aku menatapnya. Tidakan yang keliru. Becca memiliki pandangan seperti "anak anjing yang terluka". Aku benci pandangan itu. "Ayolaah.."
"Maukah kamu berjanji akan membiarkan aku sendiri jika aku memberikan jawaban?"
ia menyeringai seperti biasa. "Ya!" dia menjawab cepat. "Telepon aku besok oke?"
Tepat pukul 2 pada hari pesta dansa itu, aku menerima telepon yang kutakutkan.
"Apa keputusanmu?" tanya Becca, berusaha kedengaran tidak peduli.
"Kurasa.." aku mengerang, dengan putus asa berusaha mengingat pidato maafkan-tapi-aku-tidak-bisa yang telah berulang kali aku latih.
"YES!! terima kasih, terima kasih! Kamu tidak tau betapa senangnya aku! Kami akan menjemputmu pukul 7 oke?"
"Kalian tidak perlu menjemputku.."
"jangan khawatir, kami memang harus melewati rumahmu. Aku sayang kamu. Sampai nanti!"
Oke aku mengaku, pesta itu menyenangkan. Aku dan Becca sangat menikmati saat itu, berdansa seperti 2 orang maniak. Tampaknya waktu berjalan sangat cepat. Belum lama kami berdansa diiringi lagu 'Time of Your Life', tau tau lampu di ruang senam mulai dimatikan satu per satu. Becca merangkul bahu ku.
"Bagaimana pendapatmu? Senang kan kamu datang?" aku menyeringai padanya. "Trim's sudah membujukku.."
"Tidak masalah sayang, ayo kita pulang!" Sambil bergandengan tangan, kami meninggalkan gedung dengan perasaan penuh kehidupan, tampaknya itu adalah saat saat menyenangkan dalam kehidupan kami.
"Aneh" komentar Matt , sambil menyalakan penyeka kaca mobilnya. Aku menoleh ke arah jendela belakang. Saat itu mulai turun hujan es yang biasanya terjadi di tengah bulan Oktober.
"Apakah kita hampir sampai rumah?" tanya Becca kuatir. "Ya, beberapa meter lagi"
Sambil berusaha melihat kaca depan, aku menyasikan batang batang pohon tergeletak di belakang truk yang berada di depan kami berayun ayun dalam angin yang kencang.
"Aku tidak suka berada di belakang truk ini" ujar Matt gelisah "Aku akan pindah ke jalur lain"
Ketika ia menyalakan lampu mobilnya, aku melihat truk itu lagi. "MATT!!" teriakku ngeri. Beberapa detik berikutnya terasa lama, tapi kejadian sebenarnya berlalu lebih cepat daripada yang dapat diproses pikiran ku. Truk besar itu berputar ddi luar kendali, dan jatuh ke samping. Batang batang pohon, dedaunan dan bagian bagian yang lain terlontar ke arah mobil Matt. Dengan suara keras yang mengerikan, kami terhempas ke sisi jalan.
Aku berusaha membuka mataku. Batang dan ranting patah menumpuk di pangkuanku. Ranting yang jatuh dengan cepat dan keras ke arahku menggoreskan luka di lengan, wajah, dan bagian tubuhku yang terbuka. Aku bahkan tidak bisa melihat seorang pun di kursi depan.
"Becca?? Matt?" Tidak ada jawaban, aku bergegas keluar mobil membuka pintu Matt "Tunggu aku bisa keluar.." Akhirnya Matt muncul, dan aku nyaris tidak percaya dia masih hidup. Wajahnya terluka parah dan nyaris tidak berkulit.
Aku segera lari ke sisi lain membuka pintu Becca. Dengan rasa takut bercampur tegang, aku mengeluarkan dan mematahkan ranting itu hingga akhirnya Becca kelihatan.
"Saraa..?"
"Kau tdak apa apa?"
"Ya, aku tidak apa apa..kau tampak buruk sekali. Bagaimana keadaanmu?" Kurasa saat ini jantungku mulai berdetak lagi. "Ya, baik. Aku senang kau juga tidak apa apa. Bisakah kau keluar?"
"Tidak.."
"Aku akan mencari seseorang untuk membantu" ujar Matt, lalu berlari.
"oke, kita tunggu hingga ada yang datang." Aku berlutut di dekat pintu menemani Becca. "Aku senang kau datang ke pesta itu bersamaku.." kata Becca sambil tersenyum.
"Aku juga senang aku datang.." Senyumnya berubah jadi kerenyit, lalu aku mengikuti pandangan Becca. Tiba tiba aku merasa mual. Sebatang kayu yang besar mencuat dari dadanya. Seluruh bagian kiri tubuh Becca berlumuran darah dan leih banyak lagi ketika jantungnya berdenyut. "Kau akan baik baik saja" uraih tangan Becca dan kugenggam untuk menenangkannya. Jantungku seperti di remas remas. Dengan setiap napas yang kuhirup, aku merasakan tusukan kecil menghujam tubuhku. Becca tersenyum lagi padaku. Jantungku kembali seperti dihujam. "Hei Saraa?" bisiknya.. "Hmm?" suaraku nyaris tidak terdengar.
"Aku sangat menyayangimu. Jangan biarkan mereka memisahkan kita, oke?" Tanpa yakin benar apa maksudnya, aku bersedia menyutujui apa saja. "Ya, aku akan ikut bersamamu ke rumah sakit"
Becca menggelengkan kepala. "Bukan itu maksudku, kau tau itu, janji?"
Aku berusaha mengeluarkan suaraku. "Janji"
Becca tersenyum manis seperti biasa, Sambil mengangguk, matanya dipejamkan dengan damai, genggaman tangan nya melemas. Dengan tercekat panik kujulurkan kepalaku ke dalam "Becca!! Becca!! bangunlah ayolah bec!" Dengan kehilangan suara, aku menatap tidak percaya pada tubuh dingin dipenuhi darah dari orang yang telah begitu dekat dengan ku daripada siapapun selama 8 tahun. Delapan tahun yang berkahir sekejap saja.
Kubaringkan kepalaku di pangkuan nya, menyebut namanya hingga kekuatan diriku habis dan jatuh ke tanah dan mengenggam tangan nya lagi. Air hujan yang dingin mendera, dan aku sendirian...
Aku memberanikan diri ketika hendak melewati pintu ganda itu lagi untuk pertama kalinya setelah 2 minggu ini, sementara gelombang kesedihan dan kehilangan menerpaku lagi. akhirnya aku sampai di loker, dan hanya dapat berdiri disana memandangi pintu besi yang dingin dan kelabu.
Sambil menatap ke langit langit untuk mencari bantuan dan ketenangan, aku bersiap untuk menghadapi yang tidak terelakkan. Tidak akan ada kartu kecil lagi yang ditempelkan di rak atas, tidak ada kehadiran sahabat ku di sampingku.
Dengan memberanikan diri perlahan kubuka kunci kombinasiku..klik..
Dengan sakit aku menelan ludah, membuka gerendel dan membuka pintu loker perlahan. Sebuha kartu baru tertempel di rak, tulisan amplop itu sangat kukenal. Tapi..tidak mungkin. Dengan menggunakan setiap kendali diri yang tersisa, kuambil amplop itu. Wanginya yang kukenal sangat memukulku. Aku jatuh terduduk di lantai, air mata kembali berlinang di pipiku.
Setelah kubuka, aku hampir tak bisa membaca isinya karena pandangan ku mengabur oleh air mata.
Saraa,
Hei, aku tau sebenarnya kamu tidak ingin datang ke pesta malam ini, tapi aku senang akhirnya kamu mau ikut. Sahabat, aku menyayangimu! dan kuharap aku tidak membuatmu gila karena berusaha meyakinkanmu untuk ikut. Kita akan selalu bersama..dan tidak akan ada yang berubah, bukan? Sampai nanti..
Becca
Kubiarkan pandangan ku melayang ke dalam pintu loker dan menemukan foto yang tidak ingin kulihat. Foto itu adalah salah satu foto favoritku, diambil sekitar 2 bulan yang lalu. Aku dan Becca saling berangkulan.. Di foto itu kai menertawakan sesuatu, kami selalu tertawa karena sesuatu.
Tampaknya nasib telah memisakan kami. Aku tidak bisa mengingat senyum, tawa, suara, dan ekspresinya.
Bel sekolah berdering, aku menyelinap keluar. Kutengadahkan wajahku ke langit dan kubiarkan matahari mengeringkan air mataku. Aku memegang setiap kenangan sahabat terdekatku, dan menguncinya dalam hatiku yang besar dan kosong. Kenangan memenuhi kekosongan yang ada, Tapi aku tak akan pernah melepaskan kenangan itu. Untuk pertama kali aku mengerti maksud perkataan Becca menjelang ajalnya. tidak ada yang dapat memisahkan kami. Waktu telah membuktikan hal itu tidak mungkin terjadi.
Ketika berbalik ke sekolah untuk pertama kalinya aku tau kali ini aku punya kekuatan baru untuk kembali masuk.
Lagipula kali ini aku tidak sendiri. Aku membawa semangat sahabat terdekatku. Kami tidak benar benar berpisah. Ia akan tetap hidup dalam setiap senyum yang kulontarkan.
Benar benar menakjubkan bagaimana seluruh sistem prioritas mu berubah ketika kau memasuki pintu ganda yang mengintimidasi itu. Bukan nya sesekali menginap dan pesta ulang tahun, kami malah berkencan dan berdansa. Dansa pertama adalah pesta homecoming. Aku tidak menganggap nya serius, banyak hal lain yang lebih bak dilakukan, misalnya menonton atau makan makan. Selain itu, aku belum boleh berkencan. Aku tidak ingin menjadi siswa bodoh yang tidak punya pasangan di pesta dansa. Alasan alasan ini cukup baik bagiku, tapi rupanya tidak memuaskan Becca.
Jumat pagi sebelum pertandingan, ia muncul di depan lokerku, di mana aku pura pura kesal mencari buku biologi ku.
"Aku tidak tau kamu tidak akan datang ke pesta itu.." Ia menuduhku
Aku mengangkat bahu, sambil terus ber pura pura sibuk.
"Ayolah.." pintanya. "Pergi bersamaku.."
Aku terus mengaduk ngaduk loker, berharap aku tidak pernah mendengar tentang pesta itu.
"Kenapa kamu tidak mau pergi sih?" Aku tidak menjawab..
"Apa karena kamu tidak punya pasangan?" aku berhenti mengaduk aduk barangku. "Mungkin."
Becca mengeluh frustasi dan memalingkan wajahnya. Aku menarik napas lega, meski aku tau ia tidak akan melupakan percakapan itu sekalipun itu bearti ia harus mencarikan pasangan untukku.
Konfrontasi kedua terjadi saat pertandingan.
"Aku juga tidak punya pasangan" ia memberitauku..
"Becca, kamu bilang tidak punya pasangan. Kamu punya teman kencan selama beberapa minggu ini." Aku mulai merasa sedikit kesal. Sedikit saja. "Bisakan kamu tidak mengusikku lagi?" aku menatapnya. Tidakan yang keliru. Becca memiliki pandangan seperti "anak anjing yang terluka". Aku benci pandangan itu. "Ayolaah.."
"Maukah kamu berjanji akan membiarkan aku sendiri jika aku memberikan jawaban?"
ia menyeringai seperti biasa. "Ya!" dia menjawab cepat. "Telepon aku besok oke?"
Tepat pukul 2 pada hari pesta dansa itu, aku menerima telepon yang kutakutkan.
"Apa keputusanmu?" tanya Becca, berusaha kedengaran tidak peduli.
"Kurasa.." aku mengerang, dengan putus asa berusaha mengingat pidato maafkan-tapi-aku-tidak-bisa yang telah berulang kali aku latih.
"YES!! terima kasih, terima kasih! Kamu tidak tau betapa senangnya aku! Kami akan menjemputmu pukul 7 oke?"
"Kalian tidak perlu menjemputku.."
"jangan khawatir, kami memang harus melewati rumahmu. Aku sayang kamu. Sampai nanti!"
Oke aku mengaku, pesta itu menyenangkan. Aku dan Becca sangat menikmati saat itu, berdansa seperti 2 orang maniak. Tampaknya waktu berjalan sangat cepat. Belum lama kami berdansa diiringi lagu 'Time of Your Life', tau tau lampu di ruang senam mulai dimatikan satu per satu. Becca merangkul bahu ku.
"Bagaimana pendapatmu? Senang kan kamu datang?" aku menyeringai padanya. "Trim's sudah membujukku.."
"Tidak masalah sayang, ayo kita pulang!" Sambil bergandengan tangan, kami meninggalkan gedung dengan perasaan penuh kehidupan, tampaknya itu adalah saat saat menyenangkan dalam kehidupan kami.
"Aneh" komentar Matt , sambil menyalakan penyeka kaca mobilnya. Aku menoleh ke arah jendela belakang. Saat itu mulai turun hujan es yang biasanya terjadi di tengah bulan Oktober.
"Apakah kita hampir sampai rumah?" tanya Becca kuatir. "Ya, beberapa meter lagi"
Sambil berusaha melihat kaca depan, aku menyasikan batang batang pohon tergeletak di belakang truk yang berada di depan kami berayun ayun dalam angin yang kencang.
"Aku tidak suka berada di belakang truk ini" ujar Matt gelisah "Aku akan pindah ke jalur lain"
Ketika ia menyalakan lampu mobilnya, aku melihat truk itu lagi. "MATT!!" teriakku ngeri. Beberapa detik berikutnya terasa lama, tapi kejadian sebenarnya berlalu lebih cepat daripada yang dapat diproses pikiran ku. Truk besar itu berputar ddi luar kendali, dan jatuh ke samping. Batang batang pohon, dedaunan dan bagian bagian yang lain terlontar ke arah mobil Matt. Dengan suara keras yang mengerikan, kami terhempas ke sisi jalan.
Aku berusaha membuka mataku. Batang dan ranting patah menumpuk di pangkuanku. Ranting yang jatuh dengan cepat dan keras ke arahku menggoreskan luka di lengan, wajah, dan bagian tubuhku yang terbuka. Aku bahkan tidak bisa melihat seorang pun di kursi depan.
"Becca?? Matt?" Tidak ada jawaban, aku bergegas keluar mobil membuka pintu Matt "Tunggu aku bisa keluar.." Akhirnya Matt muncul, dan aku nyaris tidak percaya dia masih hidup. Wajahnya terluka parah dan nyaris tidak berkulit.
Aku segera lari ke sisi lain membuka pintu Becca. Dengan rasa takut bercampur tegang, aku mengeluarkan dan mematahkan ranting itu hingga akhirnya Becca kelihatan.
"Saraa..?"
"Kau tdak apa apa?"
"Ya, aku tidak apa apa..kau tampak buruk sekali. Bagaimana keadaanmu?" Kurasa saat ini jantungku mulai berdetak lagi. "Ya, baik. Aku senang kau juga tidak apa apa. Bisakah kau keluar?"
"Tidak.."
"Aku akan mencari seseorang untuk membantu" ujar Matt, lalu berlari.
"oke, kita tunggu hingga ada yang datang." Aku berlutut di dekat pintu menemani Becca. "Aku senang kau datang ke pesta itu bersamaku.." kata Becca sambil tersenyum.
"Aku juga senang aku datang.." Senyumnya berubah jadi kerenyit, lalu aku mengikuti pandangan Becca. Tiba tiba aku merasa mual. Sebatang kayu yang besar mencuat dari dadanya. Seluruh bagian kiri tubuh Becca berlumuran darah dan leih banyak lagi ketika jantungnya berdenyut. "Kau akan baik baik saja" uraih tangan Becca dan kugenggam untuk menenangkannya. Jantungku seperti di remas remas. Dengan setiap napas yang kuhirup, aku merasakan tusukan kecil menghujam tubuhku. Becca tersenyum lagi padaku. Jantungku kembali seperti dihujam. "Hei Saraa?" bisiknya.. "Hmm?" suaraku nyaris tidak terdengar.
"Aku sangat menyayangimu. Jangan biarkan mereka memisahkan kita, oke?" Tanpa yakin benar apa maksudnya, aku bersedia menyutujui apa saja. "Ya, aku akan ikut bersamamu ke rumah sakit"
Becca menggelengkan kepala. "Bukan itu maksudku, kau tau itu, janji?"
Aku berusaha mengeluarkan suaraku. "Janji"
Becca tersenyum manis seperti biasa, Sambil mengangguk, matanya dipejamkan dengan damai, genggaman tangan nya melemas. Dengan tercekat panik kujulurkan kepalaku ke dalam "Becca!! Becca!! bangunlah ayolah bec!" Dengan kehilangan suara, aku menatap tidak percaya pada tubuh dingin dipenuhi darah dari orang yang telah begitu dekat dengan ku daripada siapapun selama 8 tahun. Delapan tahun yang berkahir sekejap saja.
Kubaringkan kepalaku di pangkuan nya, menyebut namanya hingga kekuatan diriku habis dan jatuh ke tanah dan mengenggam tangan nya lagi. Air hujan yang dingin mendera, dan aku sendirian...
Aku memberanikan diri ketika hendak melewati pintu ganda itu lagi untuk pertama kalinya setelah 2 minggu ini, sementara gelombang kesedihan dan kehilangan menerpaku lagi. akhirnya aku sampai di loker, dan hanya dapat berdiri disana memandangi pintu besi yang dingin dan kelabu.
Sambil menatap ke langit langit untuk mencari bantuan dan ketenangan, aku bersiap untuk menghadapi yang tidak terelakkan. Tidak akan ada kartu kecil lagi yang ditempelkan di rak atas, tidak ada kehadiran sahabat ku di sampingku.
Dengan memberanikan diri perlahan kubuka kunci kombinasiku..klik..
Dengan sakit aku menelan ludah, membuka gerendel dan membuka pintu loker perlahan. Sebuha kartu baru tertempel di rak, tulisan amplop itu sangat kukenal. Tapi..tidak mungkin. Dengan menggunakan setiap kendali diri yang tersisa, kuambil amplop itu. Wanginya yang kukenal sangat memukulku. Aku jatuh terduduk di lantai, air mata kembali berlinang di pipiku.
Setelah kubuka, aku hampir tak bisa membaca isinya karena pandangan ku mengabur oleh air mata.
Saraa,
Hei, aku tau sebenarnya kamu tidak ingin datang ke pesta malam ini, tapi aku senang akhirnya kamu mau ikut. Sahabat, aku menyayangimu! dan kuharap aku tidak membuatmu gila karena berusaha meyakinkanmu untuk ikut. Kita akan selalu bersama..dan tidak akan ada yang berubah, bukan? Sampai nanti..
Becca
Kubiarkan pandangan ku melayang ke dalam pintu loker dan menemukan foto yang tidak ingin kulihat. Foto itu adalah salah satu foto favoritku, diambil sekitar 2 bulan yang lalu. Aku dan Becca saling berangkulan.. Di foto itu kai menertawakan sesuatu, kami selalu tertawa karena sesuatu.
Tampaknya nasib telah memisakan kami. Aku tidak bisa mengingat senyum, tawa, suara, dan ekspresinya.
Bel sekolah berdering, aku menyelinap keluar. Kutengadahkan wajahku ke langit dan kubiarkan matahari mengeringkan air mataku. Aku memegang setiap kenangan sahabat terdekatku, dan menguncinya dalam hatiku yang besar dan kosong. Kenangan memenuhi kekosongan yang ada, Tapi aku tak akan pernah melepaskan kenangan itu. Untuk pertama kali aku mengerti maksud perkataan Becca menjelang ajalnya. tidak ada yang dapat memisahkan kami. Waktu telah membuktikan hal itu tidak mungkin terjadi.
Ketika berbalik ke sekolah untuk pertama kalinya aku tau kali ini aku punya kekuatan baru untuk kembali masuk.
Lagipula kali ini aku tidak sendiri. Aku membawa semangat sahabat terdekatku. Kami tidak benar benar berpisah. Ia akan tetap hidup dalam setiap senyum yang kulontarkan.

0 komentar:
Posting Komentar